Curug Country - Tanjungsari

Objek wisata yang masih alami, anda akan disuguhkan suasana alam yang asri dan sejuk. Curug Country adalah air terjun yang sangat indah, air bening dan menyejukan mata.

Penangkaran Rusa

Tempat penangkaran Rusa di Cariu ini tidak banyak diketahui orang. Sepi dan jauh dari keramaian. Padahal, lokasi ini sudah ada sejak tahun 1993 dengan nama Wahana Wisata Penangkaran Rusa (WWPR) milik Dinas Perhutani Bogor.

Tradisi Meriam Karbit

Tradisi Meriam karbit mungkin sudah jarang kita jumpai. Tapi di Jonggol masih ada, biasanya diadakan setahun sekali. Acara biasanya dilaksanakan beberapa hari setelah Idul Fitri.

Peta Jonggol

Jonggol adalah sebuah Kecamatan di Timur Kabupaten Bogor, wilayah Jonggol yang luas dengan kontur perbukitan menjadikan Jonggol daerah yang strategis.

Situs Batu Tapak Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi (Batu Tapak) atau Prasasti Ciampea adalah salah satu prasasti peninggalan kerajaan Tarumanagara. Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan bukit Pasir Awi (± 559m dpl) di kawasan hutan perbukitan Cipamingkis Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur.

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

12 Januari 2011

Berbekal dari Masa Kanak-kanak

Judul Buku : Childhood and Society

Penulis : Erik H. Erikson
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Tebal : xxix + 536 halaman
Harga : Rp 62.000,-
Peresensi : Supriyadi*)

Telah banyak disiplin ilmu yang muncul dari kajian atau penelitian yang mana manusia menjadi obyek materialnya. Namun demikian, berbagai kajian dan penelitian itu berbeda dalam hal obyek formalnya. Manusia sebagai obyek material dalam sebuah kajian atau penelitian, memunculkan disiplin ilmu psikologi dengan obyek formalnya adalah kejiwaan atau psikisnya. Artinya, manusia dikaji atau diteliti dari sisi kejiawaan atau psikisnya, muncullah sebuah disiplin ilmu yang dinamakan psikologi.

Erik H. Erikson dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” memaparkan sebuah pembahasan yang menarik tentang manusia dikaji dari segi kejiwaannya. Tidak hanya itu, pembahasan tentang manusia dalam buku tersebut juga dikaitkan dengan kehidupan sosialnya sebagaimana bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Dengan demikian, jadilah psikososial yang dalam buku tersebut berisikan tentang hubungan antara manusia yang masih dalam tahap masa kanak-kanak dengan psikososialnya.

Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penting untuk pembentukan kepribadian dan karakter. Dengan demikian, masa kanak-kanak adalah suatu tahap di mana manusia itu belajar sebanyak-banyaknya tentang kehidupan sebagai modal hidupnya kelak. Di masa tersebut, manusia bersifat imitatif atau menirukan dari apa saja yang ada dan terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, faktor lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan manusia di masa kanak-kanak tersebut.

Mengutip pendapat John Locke (1632-1704) tentang teori “tabularasa” yang mana manusia itu terlahir seperti kertas kosong. Dengan demikian, kertas tersebut perlu diisi atau ditulis dengan sesuatu. Oleh karenanya, manusia yang masih “kosong” haruslah diisi. Tidaklah mungkin manusia yang baru terlahir langsung bisa mengisi kepribadiannya sendiri. Tentunya mambutuhkan bantuan orang lain (orang tua) atau lingkungan sekitar. Dengan demikian, hingga masa kanak-kanak pun manusia terpengaruh oleh lingkungan. Karena lingkungan sangat mempengaruhi, maka lingkungan harus diatur sebaik mungkin agar manusia yang masih dalam tahap kanak-kanak terbentuk kepribadian dan perilakunya yang baik.

Periode kanak-kanak (childhood) terbagi menjadi dua masa yakni early childhood dan late childhood. Early childhood adalah ketika anak sudah berusia 2 tahun hingga 6 tahun. Periode tersebut adalah ketika manusia semakin membaik dalam menguasai anggota tubuhnya. Kemampuan dalam berbahasa pun juga meningkat.

Sementara late childhood adalah ketika anak berusia dari 6 hingga 12-14 tahun. Periode tersebut menunjukkan semakin masaknya organ-organ seksual. Dalam periode tersebut, manusia sudah lebih mandiri. Hal itu ditandai dengan mulainya manusia untuk membanding-bandingkan segala sesuatu di rumahnya dengan sesuatu yang berada di luar rumah, seperti di sekolah dan di rumah teman-temannya yang lain. Norma-norma moral yang pada masa earli childhood terasa absolut oleh anak, berubah menjadi relatif ketika telah mengenal lingkungan luar (luar rumah). Oleh karenanya, perhatian terhadap anak haruslah diutamakan oleh setiap orang tua.

Manusia yang mana masih dalam tahap childhood merupakan tahapan yang mana peran lingkungan sangat mempengaruhinya. Pengaruh lingkungan tersebut yang menjadikan kepribadian dan karakter anak hingga dewasa nantinya. Oleh karenanya, dalam masa tersebut seorang anak hendaknya berada di lingkungan yang baik dan penuh kasih sayang. Hal itu akan sangat membentuk perilaku baik seseorang. Sebaliknya, lingkungan yang tidak baik akan membuat anak menjadi tidak baik pula.

Lingkungan masyarakat juga membentuk manusia yang masih dalam tahap kanak-kanak memperoleh bahasa. Orang yang terlahir dan mengalami masa kanak-kanak di Jawa, tentunya ia akan menggunakan bahasa Jawa dalam berbicara. Begitu juga yang terlahir di Sunda, Betawi, atau di Inggris, Prancis, dan lain sebagainya, tentuya akan memperoleh bahasa ibunya di tempat di mana anak terpengaruh oleh lingkungannya.

Karena masa kanak-kanak sangat menentukan kepribadian seseorang, oleh karenanya seorang anak itu diberi pendidikan yang baik dan kasih sayang yang terpenuhi. Hal itu sebagai modal seorang anak ketika pada nantinya mengalami periode dewasa. Orang dewasa juga harus menyadari bahwa ia berangkat dari anak atau bocah kecil, yakni periode kanak-kanak.

Modalitas manusia ketika masih kanak-kanak itu sangatlah penting untuk perkembangan seseorang. Tidak hanya itu, modalitas tersebut sangat membentuk kepribadian dan karakter manusia. Dengan demikian, selain faktor lingkungan yang harus diperhatikan, faktor proteksi anak juga harus diutamakan. Proteksi yang dimaksudkan adalah perlindungan anak dari kelainan-kelainan yang berkaitan dengan kesehatan anak. Kelainan pada anak bisa mengakibatkan fatalitas pada perkembangan dan pertumbuhan sehingga anak berpotensi mengalami kelainan, baik secara fisik ataupun mental. Gizi buruk akibat kekurangan asupan makanan dan minuman yang bergizi telah menjadi banyak contoh yang memilukan di negara-negara miskin. Oleh karena itu, faktor lingkungan dan faktor kesehatan anak, seyogyanya menjadi hal yang diutamakan.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Childhood and Society”, para pembaca diajak untuk menjelajahi dunia psikologi yang mana hubungan antara masa kanak-kanak dengan psikososialnya menjadi pembahasan yang menarik. Buku tersebut mengulas berbagai fakta kanak-kanak dari suku Indian, daerah nelayan di sungai Salmon, hingga Amerika dan bahkan masa kanak-kanak Adolf Hitler dan Maxim Gorky. Buku tersebut menyajikan suatu pembahasan dengan cerita sehingga memudahkan pembaca untuk memahami atau paling tidak mengenal pembahasan tentang manusia secara kejiwaannya.

*) Peresensi adalah Pengamat Sosial pada Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sumber : Kompas

Berfikir Menjadi Sang Juara

Judul buku : Think Like a Champian!

Penulis : Donald Trump
Penerbit : Daras Books, Jakarta
Cetakan : 1, Juni 2010
Tebal : 211 halaman

Albert Einstean, sang ilmuan dunia, pernah mengungkapkan bahwa imajinasi merupakan cita-cita masa depan. Dengan olah imajinasi, lanjut Eisntean, manusia akan menemukan kejutan hidup yang tak terpikirkan senbelumnya. Imajinasi mendorong tumbuhnya gagasan inovatif yang membikin hidup manusia mengalami lonjakan prestasi yang mengagumkan. Imajinasi menentukan pilihan terbaik yang didamba seseorang. Dan pilihan terbaik itu, menurut Aristoteles, adalah mencapai hal tertinggi yang mungkin dicapainya. Pilihan terbaik akan menentukan gerak langkah terbaik yang mengarahkan manusia menuju jalan sebagai sang juara.

Mentalitas sang juara selalu berjalan dalam garis terbaik yang diimpikannya. Mimpi-mimpi besar sang juara selalu mengilhami lahirkan kekuatan besar yang mendobrak kebuntuan di tengah perjalanan. Mentalitas mendobrak inilah yang disuntukkan Donald Trump dalam bukunya yang menggugah “Think Like a Champian.” Mentalitas sang juara selalu dimulai pikirannya. Pikiran yang juara akan menghadirkan capaian juara. Pikiran sang juara selalu teracuni berbuat besar dengan prediksi yang matang. Gerak sang juara tak kenal lelah untuk menerobos beragam kemungkinan yang menghadang. Apapun di depannya akan “dikalahkan” dengan semangat membara membela sebuah impian.

Donald Trump membuktikan dirinya sendiri dengan sukses sebagai manager perusahaan besar dengan kekayaan triliunan. Kekuatan pikirannya sebagai sang juara terus menancap dalam menggapai cita-citanya. Halangan yang menghadang terus ia kalahkan dengan modal semangat membara yang tak pernah padam dalam kekuatan dirinya. Tak salah kalau Donald Trump dikenal sebagai negoisator ulung, karena mentalitas juaranya tak pernah canggung melakukan negosiasi dengan berbagai kalangan lintas negara. Apapun di depannya ia terjang untuk meraih kesuksesan yang dia idamkan.

Sebagaimana yang diungkapkan Einstean, Trump juga sangat percaya dengan dahsyatnya imajinasi dalam jalan kesuksesannya. Bahkan Trump mampu menjadikan imajinasi sebagai daya ledak kekuatan finansial yang dikelolanya, melampaui catatan finansional konvensional dalam trandisi ilmu ekonomi. Inovasi-inovasi yang diraihnya tak lain karena daya magis imajinasi yang dipegangnya selalu dalam menggerakkan dunia bisnisnya. Imajinasi membuatnya bertahan lama melakukan proses kehidupan yang ia jalani. Bertahan lama untuk menggerakkan roda pikiran dan perusahaan, tanpa mengenal lelah, dan terus dilakukan dengan gairah yang tinggi yang membara.

Dan yang sangat dipegang Trump adalah bekerja keras tanpa mengenal lelah. Sang juara tak pernah merasa puas dengan capaian yang telah diraihnya. Selalu dikerahkan semua tenaga untuk bekerja keras sebaik mungkin. Kerja keras yang tidak terpaku dengan hasil, melainkan berpaku dengan prinsip dan proses. Bekerja keras yang teguh dengan prinsip dan setia dengan proses. Prinsip selalu dipegang untuk dijalankan sebagai pegangan melangkah. Setia dengan proses berarti menjadikan proses sebagai kenikmatan menempatkan prinsip dalam gerak langkah yang diusahakan. Mental kerja keras, bagi Trump, adalah kekayaan yang paling berharga yang dimiliki seseorang. Bukan harta, perusahaan, dan emas yang ia pegangi, tetapi kerja keras disertai keteguhan prinsip dan proses. Mentalitas juara selalu datang dengan kerja keras.

Trump dalam buku ini sangat mengagumi sosok Barack Obama yang teguh menempa dirinya untuk menjadi sang juara di Negeri Paman Sam. Walaupun Obama berkulit hitam, tetapi mentalitas juara melekat dalam dirinya, sehingga menang dalam Pemilu Presiden AS, 2008. Dan bagi Trump, Obama telah menandai babak baru dunia global di tengah kompetisi yang makin ketat ini. Sang juara yang lahir di Afrika itu juga membangun tradisi baru sejarah politik dan sejarah ekonomi AS. Trump kagum, karena Obama mampu menjalani perkataan dengan tindakan yang spektakuler. Kini, Obama yang ngantor di gedung putih ini, lanjut Trump, menjadi ikon dunia yang menampilkan diri secara elegan dalam meraih prestasi sebagai sang juara. Mentalitas sang juara yang dicontohkan Barack Obama layak menjadi refleksi manusia modern abad ke-21 saat dalam melangkah di masa depan. Konsistensi dalam memegang keteguhan mental menjadi landasan paling mendasar untuk meraih prediket sang juara.

Dan setiap manusia, bagi Trump, harus terus memperjuangkan diri sebagai sang juara, karena manusia dilahirkan untuk sukses, bukan untuk gagal.

*Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber: Kompas

Al-Azhar: Pesona Keislaman Tak Berbatas Ruang Waktu

Judul: Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan

Penulis: Zuhairi Misrawi

Penerbit: KOMPAS

Tahun: I, Agustus 2010

Harga: Rp 58.000

ISBN: 978-979-709-510-9

Mungkin tak asing lagi dengan nama Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, khususnya bagi mereka yang berasal dari kalangan pesantren. Universitas yang sudah berumur ratusan tahun dan merupakan tempat menuntut ilmu paling berpengaruh di dunia. Universitas yang telah banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan Muslim berpengaruh, baik di lingkungan Mesir, Timur Tengah sebagai episentrum dunia keislaman, maupun Indonesia yang, meminjam istilah yang dipakai Guru Besar Sejarah UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, merupakan lokus “peri-peri” (pinggiran) Islam.

Sejarah mencatat nama “Al-Azhar” berasal dari sebuah masjid bernama Al-Azhar yang dibangun Panglima Besar Dinasti Fathimiyah, Jauhar As-Shaqaly, 359 H sebagai tempat ibadah, enam tahun kemudian mulai dibangun tempat kegiatan belajar dan majelis ilmu pengetahuan bermazhab Syi’ah Ismailiyah. 12 tahun kemudian, tepatnya 378 H/988 M, Al-Azhar telah berkembang menjadi universitas besar dan berpengaruh.

Letak Mesir yang strategis di tengah dunia Islam menjadikan Al-Azhar sebagai tujuan menimba ilmu agama dari para masyaikh-nya. Begitu prestise-nya kedudukan Al-Azhar merupakan manifestasi dari peran yang dijalankannya dalam menjaga kemurnian ilmu-ilmu agama, peradaban Islam, dan bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, seperti yang disebutkan Muhammad Kamal Al-Sayid Muhammad dalam bukunya Al-Azhar Jami’an wa Jami’atan Aw Al- Azhar fi Alfi ‘Am.

Pada masa Sultan Al-Zahir Beibars, ada dua hal yang menjadikan Jami’ Al-Azhar menjadi pusat keilmuan teramai saat itu. Pertama, ekspansi yang dilakukan pasukan Tatar hingga menaklukkan kekhalifahan Dinasti Abbasiah di Baghdad, yang menyebabkan pindahnya pusat kekhalifahan ke Mesir, mulai tahun 660 H. Hingga tahun 923 H, bertepatan dengan awal munculnya Daulah Usmaniah di Turki. Akibat serangan Tatar, banyak ulama Muslim dari Timur hijrah ke Mesir karena Mesir berhasil mengalahkan Tatar dalam peperangan ‘Ain Jalut yang dipimpin Raja Mesir Sultan Saifuddin Al-Muzaffar Quthz. Kedua, orang-orang Islam di Andalusia ditindas orang-orang Eropa hingga banyak ulama dunia Islam bagian Barat hijrah ke timur dengan tujuan kota Kairo juga.

Zuhairi Misrawi, orang yang pernah menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, mencoba mendeskripsi kebesaran dan keutamaannya dalam buku bertajuk Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan. Disebutkan bahwa memang tidak mudah mengadakan reformasi di Al-Azhar. Bisa dilihat, misalnya, ketika Sheikh Muhammad Abduh mengusulkan agar Muqaddimah Ibnu Khaldun dimasukkan untuk dijadikan materi dalam kurikulum Al-Azhar, ditolak oleh Sheikh Muhammad Al-Anbani, Sheikh Al-Azhar saat itu. Usaha memasukkan materi ilmu-ilmu pengetahuan umum di Al-Azhar baru berhasil pada tahun 1895 M. Bermula dengan hanya mencakup 11 cabang ilmu dan kemudian berkembang menjadi 26 cabang, tetapi itu hanya meliputi beberapa cabang ilmu pengetahuan umum, seperti aljabar, ilmu hitung, dan dasar-dasar tehnik.

Pada tahun 1930 M dikeluarkan undang-undang pembentukan tiga fakultas di Al-Azhar, yaitu Fakultas Ushuluddin, Fakulatas Syari’ah, dan Fakultas Bahasa Arab, serta belum mencakup fakultas-fakultas umum. Pada tahun 1961 M, pada masa Sheikh Mahmud Syaltut dikeluarkanlah Undang-Undang Nomor 103 Tahun 1961 M, yang menetapkan fakultas-fakultas cabang ilmu pengetahuan umum, seperti fakultas kedokteran, perdagangan, teknik, pertanian, dan farmasi, yang dapat kita saksikan hingga sekarang.

Saat ini, tak kurang dari 4.000 mahasiswa Indonesia tengah menuntut ilmu agama Islam di universitas di negeri para nabi tersebut. Kondisi demikian, jelas akan memberikan sumbangan pemikiran signifikan tentang paradigma keislaman di Indonesia ketika para sarjana lulusan Al-Azhar tersebut mengajar di beberapa pesantren dan universitas dalam negeri. Secara sempurna, penulis menyuguhkan ihwal sejarah Al-Azhar, para mahasiswa Indonesia yang belajar di sana, serta peran Al-Azhar dalam mengembangkan pandangan keislaman moderat dalam konteks global. Tidak luput pula dikupas secara mendalam tentang sejarah Mesir dan Kota Kairo yang memesona. Wallahu’alam.

Sumber : Kompas


Mencipta Inovasi dalam Diri

Judul buku : 365 Hari Berfikir Positif

Penulis : Brook Noel

Penerbit : Daras Books, Jakarta

Cetakan : 1, Juni 2010

Tebal : 340 halaman

Setiap hari yang kita jalani tentunya memberikan pengalaman inspiratif melanjutkan langkah di hari selanjutnya. Evaluasi menjalani hidup setiap hari membikin pengalaman inspiratif sebagai daya kekuatan yang menakjubkan untuk menaklukkan tantangan di hari berikutnya. Kegagalan atau kesuksesan yang kita raih menjadi bekal untuk kehidupan yang semakin tegar, teguh dan berprinsip. Semakin jeli menangkap pesan keseharian kita, potensi kita setiap waktu akan berkembang. Tak ada yang kita jalani, akhirnya, menjadi sia-sia. Hari-hari akan kita jalani dengan riang, gembira, dan penuh motivasi.



Buku berjudul “365 Hari Berfikir Positif” menjadi buku panduan yang menarik sebagai salah satu referensi kita dalam menjalankan roda kehidupan setiap hari. Yang paling mengesankan dalam memotret kehidupan setiap hari yang termuat dalam buku ini adalah hadirnya kata-kata inspiratif dari berbagai tokoh dunia. Kutipan inspiratif tersebut selain menggugah daya motivasi, juga melangkahkan kita jauh ke belakang ihwal jejak masa lalu para tokoh yang kata-kata menggugah pada jamannya. Jejak historis yang melekat dalam kutipan tersebut menumbuhkan kesadaran historis akan kejayaan masa lalu yang dicetak manusia pada jamannya. Kesadaran sejarah sangat penting untuk membuka mata batin kita dalam menajamkan kekuatan yang visioner di masa depan. Pearl S. Buck mengatakan, “jika anda ingin memahami hari ini, anda harus mencari hari kemarin.”



Inspirasi masa lalu yang penuh daya inovasi yang terkutip dalam buku ini menjadikan gerak langkah kita setiap hari sebgaai sebuah motivasi yang tinggi. Hari-hari yang akan kita jalani menjadi penuh inovasi tiada henti. Inovasi ini sangat penting, karena perjalanan hidup yang akan kita lalui dalam setahun biar tidak lagi membosankan. Inovasi membuat langkah kehidupan semakin nyata, sehingga perjalanan kehidupan lahir penuh semangat. Jalan kehidupan yang akan kita lalui juga sangat menyenangkan, karena inovasi membuat hidup lebih hidup lagi. Kebosanan hilang dan rutinitas yang kita jalani penuh dengan gairah yang menggugah. Melalui beragam inovasi pastilah menjadi dambaan setiap orang, karena membuat hidup lebih awet.



Panduan setiap hari yang direkam dalam buku ini sangat menarik dalam menjalani perjalanan hidup dalam setahun. Referensi yang akurat. Ketika kita kehilangan referensi dalam menjalani hidup di pagi hari, seketika dengan membuka buku ini kita akan mendapatkan ruh kegiatan yang menancap dalam diri kita. Panduan harian ini merupakan bentuk kamus dalam diri kita, sehingga sekecil apapun yang kita jalani, bisa terekam dengan begitu baik dalam buku ini. Untuk itulah, rekaman hidup ini semakin membuka wawasan spektakuler yang terus melekat dalam gerak-gerik yang kita jalani di kemudian hari.



Perjalanan hidup dalam 365 hari akan menjadi penanda penting bagi masa depan kita. Cita-cita yang kita pajang dengan sedemikian rupa menjadi pertaruhan yang sangat keras untuk kita wujudkan sekuat tenaga. Cita-cita yang kita imajinasikan harus menjadi pelecut daya kekuatan dalam meraihnya. Dengan cita-citalah kehidupan akan semakin mewarna dan penuh sensasi. Perjalanan hari yang dijalani dengan sepenuh cita-cita juga akan membuat inovasi semakin berkembang pesat, menjangkau berbagai hal yang tidak mungkin, melampaui berbagai capaian yang tak terkira sebelumnya. Motivasi tinggi dengan daya kekuatan yang sepenuhnya akan membuat manusia selalu tak atah arang dalam menerobos berbagai kemungkinan yang dicita-citakan.



Memaknai kehidupan setiap hari mutlak sangat dibutuhkan. Karena menjalani kehidupan yang sukses haruslah dijalani dengan kesalahan yang sedikit mungkin. Meminimalisir kesalahan sangat penting, karena kesuksesan menuntut kedisiplinan tinggi, dan kecermatan dam membaca peluang. Semakin sedikit kesalahan yang diperbuat, maka akan semakin dekat dengan tangga kesuksesan. Kesalahan menjadi pelajaran penting sehingga setiap saat harus selalu diminimalisir. Karena semakin banyak kesalahan, justru akan membuat gerak langkah sukses kita terhenti di tengah jalan. Hari-hari yang dijalani dengan riang, gembira, penuh motivasi dan inspirasi, semakin membuat kuatnya tangga kesuksesan.



*Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber: Kompas

Judul Buku : Membumikan Gerakan Ilmu Dalam Muhammadiyah

Editor : Jabrohim Dkk

Pengantar : A Syafi’i Ma’arif

Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta

Cetakan : 1, 2010

Tebal : 231 halaman

Peresensi : Ahmad Hasan MS*)

Alfin Toefler dalam bukunya Power Shift menyatakan bahwa kekuatan yang paling dahsyat, canggih dan kuat bukan semata dari fisik ataupun mesin yang modern, akan tetapi kekuatan yang tiada tandingannya adalah kekuatan yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan system yang maju. Analisis Toefler itu menunjukkan betapa ilmu pengetahuan merupakan kunci utama untuk menapaki abad 21. Benar pula apa yang dikatakan mantan Presiden RI, B.J Habibie bahwa ilmu adalah modal utama untuk merebut masa depan yang cerah bagi bangsa Indonesia tercinta ini.

Gerakan ilmu adalah gerakan pencerdasan dan pencerahan bagi peradaban. Gerakan itu pula yang digagas dan diperjuangkan Muhammadiyah yang baru saja menjalankan Muktamar satu abad di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Jauh-jauh hari, KH Ahmad Dahlan, sang Founding Fhaters Muhammadiyah sudah merintis dengan mendidik warganya di perkampungan Kauman Yogyakarta. Perlahan tapi pasti, sepeninggal KH Ahmad Dahlan, lembaga pendidikan berpayung Muhammadiyah berkembang dengan pesat. Ribuan sekolah se Indonesia mulai dari SD, SMP, SMA berdiri dengan pesatnya. Demikian pula, ratusan perguruan tinggi berdiri dengan megah lengkap dengan fasilitasnya yang modern dan berkwalitas.

Buku ” membumikan gerakan ilmu dalam Muhammadiyah” berusaha memotret perjuangan Muhammadiyah dalam memajukan negeri ini. Buku bernada reflektif hasil kumpulan tulisan ini menegaskan bahwa gerakan ilmu merupakan kunci utama dalam era globalisasi ini. Ahmad Syafi’I Ma’arif dalam kata pengantarnya menegaskan bahwa gerakan ilmu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk merebut masa depan bangsa yang gemilang. Gerakan ilmu, lanjutnya- adalah gerakan masyarakat yang gemar terhadap kegiatan membaca, menulis, berfikir dan bertindak secara efektif dan efisien.

Namun, menurut Ahmad Syafi’I Maarif, kesadaran bangsa Indonesia terhadap pentingnya gerakan ilmu masih lemah. Tingkat konsumsi membaca buku masih rendah. Terlebih terhadap kemampuan menulis dengan baik, juga malah lebih rendah lagi. Masalah lebih kompleks lagi tatkala melihat tingkat buta aksara masih tinggi ditambah dengan tingkat anak yang putus sekolah banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Selanjutnya, dalam bagian pertama, M. Husnaini menganalisis mengutip dari pendapat Paul Kennedy dalam karyanya Preparing For The Twentieth Century (1993) terkait pentingnya ilmu. Husnaini menulis, mengapa Negara-negara Afrika Barat seperti Nigeria, Sierra Leone dan Chad tetap saja miskin dan dirundung malang, sementara Negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan melesat begitu cepat?. Perbedaan amat mencolok itu ternyata terletak pada kualitas sumber daya manusia di antara keduanya. Sementara jika ditelusuri, factor penentu kualitas sumber daya manusia itu hanyalah satu, yaitu ilmu pengetahuan.

Itulah sebabnya, menurut Husnaini, bangsa Indonesia harus mau bersusah payah dalam mencari dan menggali ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Muhammadiyah sebagai organisasi yang bervisi islam Rahmatan Lil Alamin harus terus menerus berjuang melawan kebodohan dengan concern gerakan ilmu. Benar apa yang dikatakan A. Syafi’I Maarif, “ Tidak ada jalan lain untuk bersikap setia kepada gagasan islam yang berkemajuan, kecuali mau belajar dan membuka diri selebar-lebarnya, selebar kehidupan itu sendiri. (Suara Muhammadiyah, No. 10, 16-31 Mei 2010).

Hal yang sama juga diungkapkan Bambang Harnowo, menurutnya Muhammadiyah mutlak melakukan ijtihad pembaharuan(tajdid) melalui gerakan ilmu pengetahuan berkeadaban. Kantong-kantong masyarakat sipil (civil society) harus diberdayakan demi kemajuan bangsa dan keumatan. Melintasi gerak zaman, Muhammadiyah mengalami tantangan yang berat. Budaya kapitalisme, pragmatisme dan hedonisme telah menyeruak dan menyebar ke segala sendi kehidupan. Itulah sebabnya, masyarakat Muhammadiyah dan bangsa Indonesia pada umumnya harus mewaspadai hal itu. Jangan sampai budaya tersebut menggerogoti tubuh bangsa sehingga tergelincir di titik nadir.

Pertanyaannya kemudian, apa gambara riil untuk melakukan pembumian gerakan ilmu sekaligus untuk menepis serangan budaya hedonis dan pragmatis itu?. Prof. Dr. M. Amien Rais dalam buku ini memberikan jawaban. Menurutnya, ada tujuh strategi untuk memperkuat gerakan ilmu, khsusunya di lembaga pendidikan termasuk Muhammadiyah. Pertama, peningkatan kualitas teaching staff. Artinya, merekrut pengajar yang handal dan mumpuni. Para pengajar di lembaga pendidikan harus memiliki kompetensi dan kualifikasi akademik yang layak dan diakui.

Kedua, membangun atmosfer yang kondusif di lembaga pendidikan. Artinya, menciptakan kompetisi yang sehat dan nyaman antar lembaga pendidikan. Ketiga, mendukung terciptanya general library (perpustakaan umum)dan research library (perpustakaan penelitian) yang kuat dan lengkap. Keempat, kegiatan- kegiatan laboratorium untuk setiap disiplin ilmu perlu memperoleh perhatian yang sama pentingnya dengan perpustakaan. Kelima, kegiatan Research and Development (penelitian dan pengembangan) harus diperhatikan secara sungguh-sungguh. Perguruan tinggi harus diarahkan agar mampu menghasilkan riset penelitian yang bisa dirasakan manfaatnya bagi kemaslahatan masyarakat.

Keenam, memacu dosen, mahasiswa dan masyarakat secara umum agar melakukan kegiatan ilmiah seperti orasi ilmiah, seminar, symposium, bedah buku, diskusi terbuka, workshop, pelatihan dan lain sebagainya. Ketujuh, berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan dan mengembangkan misi pembebasan manusia dari kebobohan dan ketertindasan. Dengan begitu, menurut Amien Rais yang diamini Jabrohim, pembumian gerakan ilmu akan berjalan efektif sehingga misi islam rahmatan lil alamin mampu dirasakan manfaatnya bagi warga Muhammadiyah dan bangsa dan Negara Indonesia pada umumnya. Tentu dengan dukungan pemerintah, dan masyarakat pada umumnya.

Buku ini menarik dibaca bagi siapa saja, termasuk khalayak awam yang ingin mengenal lebih dekat tentang seluk beluk Muhammadiyah yang terbukti concern mengurusi lembaga pendidikan selama satu abad. Sebuah buku yang menegaskan bahwa gerakan ilmu penting dikebumikan demi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan bangsa pada umumnya.

*) Peresensi adalah Pustakawan Taman Baca Baitun Naim . Tinggal di Yogyakarta.

Sumber: Kompas

Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara

Membincangkan Pramoedya Ananta Toer atau lebih dikenal Pram memang tak ada habis-habisnya, terbukti satu lagi buku biografi menambah khasanah dalam hal itu. Pram memang menarik untuk dibahas, dari sudut manapun terlebih jalan hidupnya yang berliku tak sewajarnya sebagai seorang tokoh perjuangan yang pada akhirnya lebih memainkan penanya dari pada terjun langsung dalam kancah politik nasional. Tapi jangan dikira, menjadi pengarang, menjadi sastrawan justru Pram telah membuat jalur sendiri dan menarik lawan politiknya untuk ikut dalam konsep permainan tinta hitamnya.

Buku Muhammad Rifai, dengan judul Pramoedya Ananta Toer ini memang tidak menghadirkan kebaruan baik data maupun fakta-fakta sejarah, dia hanya merangkumnya, meramunya serta menghimpun cerita-cerita yang berserakan disekitar Pram. Tapi ini patut diapresiasi khususnya bagi mereka yang hendak melakukan penelitian mengenai sosok pram maupun bagi Pramis sendiri. Ada beberapa yang menarik perhatian, selain sejumlah karya baik yang dapat terselamatkan ataupun karya-karya yang dihilangkan penguasa sampai cerita dinominasikannya Pram untuk hadiah Nobel Sastra, hal itu pertama, ada dua periode yang menjadi pertentangan besar kalangan sastrawan sebut saja Kelompok Manikebu dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang didalamnya ada Pram, yaitu ketika Lekra memenangkan pertaruangan politik dengan ujung dilarangnya kelompok Manikebu oleh Soekarno karena menghalangi cita-cita Revolusi, satu kemenangan Pram secara nyata dengan realisme sosialisnya; dan kelompok Manikebu juga kemudian bersitegang kembali dengan Pram ketika Pram akan dianugerani hadiah Magsaysay Award, tokoh sastra seperti Muchtar Lubis, H.B. Jassin, Asrul Sani, Rendra, Taufik Ismail, Ikranagara da 26 pengarang lainnya melakukan protes terhadap keputusan Yayasan dan mendesaknya membatalkan keputusan tersebut. Alasan mereka peran terkemuka yang selama bertahun-tahun dimainkan Pram sebagai pemuka lekra dalam penindasan terhadap seniman yang tidak sepaham dengan dia, mereka juga berkata “dia memimpin penindasan kreativitas penulis, dramawan, sineas, pelukis dan musikus non komunis, melecehkan kebebasan ekpresi, menyambut pelarangan buku dan piringan hitam dan mengelu-elukan pembakaran buku besar-besaran di Jakarta dan Surabaya.

Disebut juga sebagai faktor pemberat bahwa ‘sebegitu jauh Pramoedya tidak pernah menyesalkan peran yang dilakukannya dahulu, tidak pernah mengakui seluruh sepak-terjangnya dimasa itu sebagai tindakan pemberangusan kemerdekaan kreatif yang dilakukan secara sistematik’, saya menyangkan pendapat Rifai dalam hal ini, dia seolah memberikan simpulan dari kejadian masa lalu yang masih abu-abu itu. Rifai berkata “Pram tetap keras kepala menolak bertobat dan meminta maaf atas kelakuannya sebagai pemuka Lekra. Ia tetap penuh amarah terhadap perlakuan yang ia derita selama 20 tahun lebih.” Pernyataan ini dapat disimpulkan oleh pembaca bahwa Pram benar melakukan apa seperti yang dituduhkan kelompok Manikebu yang minus Goenawan Mohamad, Arif Budiman dan Ajip Rosidi karena mereka justru berada pada kelompok yang kembali memberikan ruang bagi pencarian jalan tengah.

Saya tertarik dengan pernyataan Arif Budiman yang bijaksana “kita menciptakan budaya baru di mana kita saling menghormati martabat orang lain, meskipun dia berlainan pendapat dengan kita. Saya terntu berharap bahwa karena sikap saya ini, Pram akan menjadi setuju dengan saya, bahwa bagi seorang intelektual, kebebasan manusia lebih bernilai ketimbang kekuasaan”, bahkan Goenawan Muhamad sendiri mempunyai alasan dan tidak menandatangani nota protes tersebut yaitu bahwa Pram masih belum bebas, belum dipulihkan hak-hak sipilnya, masih ada pelarangan terhadap bukunya, pelarangan bepergian ke luar negeri, dan lain-lain.

Jadi simpulan yang masih wilayah kontroversi itu malah akan membuat kontoversi lain lagi. Kedua, pelakuan penindasan, penyiksaan dan tahanan tanpa proses pengadilan yang diterima Pram baik pada masa Orde Soekarno maupun Orde Soeharto oleh Pram tidak dibalas dengan menjelek-jelekan Indonesia begitu bahasa penulis buku tersebut, dalam karya-karyanya Pram mengajak seluruh rakyat dan penguasa Indonesia untuk tidak melupakan para pahlawan yang memberikan sumbangan tenaga, pikiran, harta dan nyawanya untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Dengan Pram-lah nama Indonesia menjadi terkenal di dunia Internasional lewat buku-buku yang humanisnya serta sarat dengan ajaran-ajaran kemanusiaan, keadilan dan perjuangan HAM-nya. Pertanyaannya, selain Pram pada kedua era tersebut siapa lagi Sastrawan yang dapat kita banggakan, mengharumkan nama bangsanya, kelompok Manikebu yang tetap menghirup udara bebas pun tak mampu melakukannya!

Itu fakta sejarah yang harus dicatat dengan tinta emas, bahwa bangsa Indonesia bangga pernah memiliki seorang sastrawan yang mencapai tingkatan paripurna. Dan bagi saya, bintang mahaputra itu harus segera disematkan pada dada kirinya walau beliau kini telah tiada, penghargaan terbaik dari bangsa untuk sastrawan yang jadi pahlawan. Jadi, gelar pahlawan itu tak hanya kita berikan pada mereka yang pernah mengangkat senjata bertempur walau jadi tukang bawa peluru tapi bagi sastrawan yang benar-benar telah berjasa memberikan pencerahan dan petunjuk jalan, jadi lentera bagi bangsanya, dalam hal ini saya setuju dengan yang dikemukakan penulis dalam hal nasionalisme Pram yaitu Pram tidak menyetujui penjajahan karena penjajahan telah merusak sendi kehidupan masyarakat, berbangsa termasuk sendi kehidupan keluarga dan menyengsarakan kehidupan manusia, konsepsi nasionalisme Pram dipengaruhi oleh pemikiran revolusi sosialis atau nasionalisme kiri, hal tersebut terlihat dari aspek humanisme, sosialisme, kebencian terhadap barat-asing nasionalisme dari spirit rakyat yang minoritas dan tertindas.

Dan perkembangan konsepsi nasionalisme Pram di era Orba bagaimana nasionalisme keindonesiaan dikontektualkan dengan perlawanan atau penentangan adanya kekuasaan yang absolut, tiran, korup, formalis, dan administratif, dimana Pram berkeinginan kekuasaan yang memberikan kebebasan berekspresi dan berkreasi dan terutama memikirkan kemiskinan warganya; ketiga, berkaitan dengan pelarangan buku yang pernah diderita Pram selama perode kepengaranganya, yang dalam hal ini dimulai semenjak penyerbuan rumah yang sekaligus perpustakaannya pada medio Oktober 1965 dan beberapa buku yang dilarang pihak Kejaksaan, dalam buku ini masih ditulis adanya pelarangan buku tetapi semenjak diumumkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pada 13 Oktober lalu, pelarangan barang cetakan, termasuk buku, kini hanya dapat dilakukan melalui proses hukum dan diputuskan oleh pengadilan. Putusan ini merupakan tanggapan Mahkamah Konstitusi atas permintaan uji materi terhadap UU No 4/PNPS/1963 yang diajukan oleh sejumlah penulis, penerbit, dan peminat bahan bacaan sejak akhir tahun lalu sampai awal tahun ini.

Menanggapi hal tersbeut, saya sependapat dengan Atmakusumah (Kompas, 18 Oktober 2010) bahwa larangan peredaran buku tidak pernah efektif dalam situasi politik apa pun. Termasuk pada 30 tahun masa pemerintahan otoriter Orde Baru dan dalam suasana yang sama selama 10 tahun terakhir masa Orde Lama. Buku-buku karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, misalnya, beredar luas di negeri kita pada masa Orde Baru walaupun dilarang oleh Kejaksaan Agung. Meski seorang penjual eceran buku Pramoedya di Yogyakarta ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan negeri, ada keluarga pembaca yang memiliki tiga sampai empat eksemplar dari setiap karya Pramoedya. Ini karena semua anggota keluarga berminat membaca buku—yang terbit selama masa pelarangan—pada waktu bersamaan tanpa harus bergiliran. Kita lihat saja faktanya, buku-buku Pramoedya yang dilarang beredar di Indonesia pada masa Orde Baru menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa jurusan sastra di Malaysia. Salah satu novelnya, yang diterbitkan di Malaysia, memasang foto Wakil Presiden Adam Malik di halaman kulit belakang dan komentarnya yang memuji karya sastra Pramoedya. Jadi seperti dikatakan Dr. Yudi Latif yang tampil sebagai ahli dalam persidangan putusan tentang nasib buku, beliau mengatakan “[Hari ini kita menarik] garis batas antara masa lalu dan masa depan, antara otoritarianisme dan demokrasi, antara masyarakat beradab dan masyarakat biadab.” Dan kini saatnya buku-buku Pram menjadi bacaan wajib juga anak-anak negeri ini, tentunya dengan satu tujuan agar jika kelak jadi penguasa tak berlaku keliru bahkan salah seperti yang pernah dilakukan masa Orde Lama maupun Orde Baru dan terakhir Orde Reformasi. ©

*) Rama Prabu, Peneliti di Dewantara Institute, Dewan Pembaca Indonesia Buku

Sumber : Kompas

Menghidupkan Budaya Baca

Judul: Bacalah! Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban

Penulis: Suherman, M.Si.
Penerbit: MQS Publishing
Tahun: II, 2010
Tebal: xi + 154 halaman
ISBN: 978-979-3373-35-0

Sampai hari ini, minat baca orang Indonesia masih terbilang rendah. Data dari United Nations Development Programme (UNDP), misalnya, menyebutkan dalam hal minat baca, Indonesia menempati peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Bahkan untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara di bawah peringkat Indonesia, yakni Kamboja dan Laos.

Apa sebenarnya penyebab rendahnya minat baca di Indonesia? Suherman melalui buku ini, secara spesifik, menyebutkan dua faktor. Pertama, faktor determinisme genetic, yakni warisan orangtua. Seseorang tidak suka membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orangtua yang tidak pernah mendekatkan dirinya pada bacaan.
Kedua, determinisme lingkungan. Orang tidak senang membaca karena lingkungan, teman-teman, rekan kerja, guru, atau dosen tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan/instansi yang mengharuskan seseorang untuk membaca.

Sosialisasi

Namun demikian, selain dua faktor di atas, Suherman menduga bahwa rendahnya minat baca di Indonesia juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi masyarakatnya yang masih lemah, kurangnya perhatian pemerintah, harga buku masih terlampau mahal, dan minimnya sosialisasi akan pentingnya membaca. Bahwa membaca adalah pintu gerbang masuknya segala informasi dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang penting untuk diketahui bagi segenap anak bangsa. Syarat untuk menjadi orang besar atau pahlawan ialah berfikir besar dan memiliki cita-cita tinggi. Sedangkan syarat fundamental untuk menggapainya adalah mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, yang instrument utamanya adalah membaca.

Membaca menjadi titik kisar tumbuh-kembangnya suatu peradaban. Dalam Islam, misalnya, membaca justru perintah pertama dan utama sebelum diperintahkan yang lainnya. Islam pernah menjadi sokoguru peradaban dunia yang menguasahi lebih dari separuh jagat ini. Jika ditelusuri, peletak dasar ilmu-ilmu yang ada sekarang adalah lahir dari tangan-tangan para ulama yang memiliki kegilaan dalam membaca.

Dalam konteks keindonesiaan, tragedi kemiskinan dan kemelut pendidikan yang sedang terjadi sekarang ini salah satunya akibat dari tidak adanya kesadaran dan rendahnya minat baca. Kemajuan suatu bangsa dan peradaban sangat berkelindan dengan kegetolan masyarakatnya menyelami dunia literasi. Sebab, di negara maju semisal AS dan Jepang, setiap individu-individu memiliki waktu baca khusus dalam sehari. Rata-rata kebiasaan di negara maju memiliki waktu baca delapan jam dalam sehari, sementara di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap harinya (hlm 128).

Barangkali mereka sadar bahwa membaca merupakan aktivitas vital yang harus diselami jika ingin sukses di dunia ini. Jika pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), maka buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara non-fisik, rohani (otak).

Dengan alasan itulah, buku selayaknya kita jadikan sebagai menu harian yang hampir sebanding dengan pangan, sandang, dan papan. Kita harus sadar bahwa buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.

Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena “pengangguran intelektual” tidak akan terjadi apabila siswa dan mahasiswa memiliki semangat membaca yang membara. Tradisi literasi telah menjadi nafas kehidupan para ulama terdahulu dan bagi mereka yang telah sukses meraih mimpinya. Kita bisa tengok tokoh-tokoh dunia semisal Karl Marx, Imam Khomeini, Mahatma Ghandhi, Hasan al-Banna, Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan seterusnya. Mereka adalah tokoh dunia yang sukses lantaran memiliki gegirangan membaca.

Perubahan Paradigma
Karena itu, jalan menuju perubahan budaya baca bisa dilakukan dengan cara merubah paradigma. Dengan kata lain, membaca selayaknya dijadikan kebutuhan jika ingin bertahan hidup dalam persaingan global yang semakin kompetitif. Sebab, menggeliatnya persoalan kebangsaan yang melanda negeri ini, pada dasarnya tidak lepas dari minimnya pembacaan fenomena yang terjadi pada realitas sosial. Runtuhnya suatu peradaban juga tidak semata disebabkan oleh masalah politik dan kekuasaan. Yang paling utama adalah hilangnya élan vital dalam membaca.

Alex Inkeles, profesor sosiologi emeritus pada Hoover Institute, Universitas Stanford (hlm 133), pernah mengatakan bahwa ciri-ciri manusia modern dan maju itu dapat dilihat dari dua sudut, yakni eksternal dan internal. Sudut eksternal berkaitan dengan lingkungan, dan mudah dikenali. Seperti urbanisasi, komunikasi massa, industrialisasi, kehidupan politik dan pendidikan, dan seterusnya. Sementara sudut internal justru tidak tampak. Seperti pola pikir, perasaan kita, visi kita, dan seterusnya. Kedua sudut ini pun harus menjadi setali dua mata uang yang saling berkelindan, berkaitan.
Namun yang jamak kita saksikan, sekalipun lingkungannya sudah modern, tidak dengan sendirinya kita menjadi modern. Padahal, kita baru bisa dikatakan modern kalau dapat merubah perilaku dan pola pikir kita. Ciri-ciri manusia modern adalah jika ia mau membuka diri terhadap pengalaman baru, inovasi dan perubahan. Maka, jendela dunia akan terbuka. Itu semua bisa terjadi pada awalnya lewat bacaan.

Untuk itu, budaya visual yang lebih dominant di negeri harus digantikan dengan tradisi literasi. Budaya baca harus ditumbuhkan. Untuk membangkitkan dan membangun minat baca tidak hanya harus dilandaskan pada lingkungan atau kondisi, tetapi juga dapat didasarkan pada pilihan yang sadar. Membaca bukanlah kewajiban yang datang dari luar dan harus dilakukan dengan terpaksa, melainkan sebuah kebutuhan yang timbul dari dalam diri dan tentu saja akan dilakukan dengan senang hati.

Buku besutan alumnus Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Padjadjaran sekaligus pendiri dan ketua Masyarakat Literasi Indonesia ini menarik untuk disimak. Meski hanya 154 halaman, tapi hampir di tiap lembarnya menghadirkan letupan “gizi” bagi pembaca. Sebagai penutup. Seorang teman pernah berkelakar ketika selesai membaca buku ini, “Buku ini ibarat oase di padang gersang. Di tengah-tengah akutnya buta aksara di Indonesia, buku ini layak sekali untuk dibaca!”

*) Peresensi adalah Pengamat Buku, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat

Sumber : Kompas

Jalan Baru Pembelajaran Siswa

Judul Buku: Media Pembelajaran Aktif

Penulis: Utomo Dananjaya
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung
Tahun terbit: November 2010.
Tebal: 342.hlm/Harga Rp 72.000

Gagasan reformasi pendidikan dimulai dengan evaluasi kurikulum 1994 oleh Litbang Departemen pendidikan yang menghasilkan buku potret kurikulum. Salahsatu kesimpulannya menyebutkan kurikulum 1994 itu lebih mengutamakan materi yang dianggap tidak cocok lagi dengan tuntutan reformasi. Hal inilah yang mendorong pengubahan paradigma pendidikan ke arah kompetensi. Ikhtiar ini bukan saja untuk memperbaiki atau menyempurnakan, tetapi secara mendasar bermaksud mengubah paradigma pendidikan.

Berpijak pada arah gerak reformasi ini, Utomo Dananjaya melihat secara jeli apa yang harus diubah, ke arah mana perubahan tersebut harus berjalan, dan lebih penting dari itu ialah bagaimana cara mengubahnya. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini mudah diutarakan, melainkan sulit untuk dijawab dalam bentuk karya ilmiah. Berbagai buku materi pendidikan sudah banyak yang beredar pada 12 tahun terakhir ini. Tetapi sebagian pada materi-materi pembelajaran tersebut sebagian besar muatan lokalnya sangat kurang.

Buku ini adalah hasil perkawinan antara progresivitas pendidikan modern yang menyandarkan pada kearifan lokal. Dengan kata lain Utomo tidak sekedar mengadopsi sistem baru dari Barat melainkan secara kritis menyerap hal yang baik dari luar dan menggali potensi-potensi positif dari kearifan lokal.

Paradigma pembelajaran sesungguhnya tidak lepas dari ideologi. Banyak analisa terhadap masalah pendidikan, termasuk metode pembelajaran yang lupa bagaimana ideologi bermain di belakangnya. Sebagai pemikiran kritis yang memahami hubungan produksi ekonomi, politik dan kebudayaan Utomo mampu melihat “apa sesungguhnya pendidikan”, “apa sesungguhnya sekolah,” dan “bagaimana sekolah yang tepat dan baik” itu harus dilakukan.”

Berpijak dari sisi makro tersebut Pak Tom melangkah dengan melakukan terobosan untuk menemukan formulasi materi pembelajaran. Karena guru dalam dunia sekolah kita masih sangat berperan kuat, maka menjadi sebuah kebutuhan lahirnya sebuah pencerahan bagi para guru. Itulah mengapa buku ini memiliki slogan “BUKUNYA PARA GURU”.

Logika simplenya, kalau kita berharap murid menjadi cerdas, kreatif, lebih baik, maka guru itu sendiri harus memiliki pedoman yang kuat. Kenya taan ini sangat realistis dengan apa yang dihadapi dunia pendidikan kita di mana kita sering menemukan guru kurang menguasai materi saat mengajar dengan buku ajar yang baru.

Buku ini menjadi penting untuk penguasaan skill para guru untuk selalu siap menghadapi beragam jenis materi. Kita bisa membuktikan pada buku ini dengan menikmati hubungan antara visi besar (idealisme) dengan kiat praktis.

Pada bagian pertama memuat beberapa hal. Topik Fondasi pendidikan sangat penting disimak secara seksama karena di sana ad aide-ide besar dari ragam ideology yang sangat mempengaruhi bidang pendidikan di era globalisasi ini.

Berlanjut pada Bab II kita akan diajak memahami Fondasi Pendidikan secara lebih detail. Pada bagian ini benar-benar diserap karena akan mengantarkan kita memahami apa yang tidak bermakna dan apa yang bermakna sehingga kita bisa kritis untuk memilih apa yang harus diterapkan dan apa yang harus ditinggalkan.

Berlanjut pada Bab III, kita akan mendapatkan konsep Pembelajaran Berpusat Pada Siswa. Dari sinilah pembongkaran paradigma perilaku guru harus berubah kea rah yang lebih humanis dan berdiri setara dengan siswa. Rumus-rumus ini akan mengajak kita merenungkan kembali apa hakekat pendidikan itu buat kita, juga buat anak-anak didik kita. Dan lebih penting dari kita “bagaimana kita seharusnya melangkah”.

Berlanjut pada Bagian III buku ini bicara pada wilayah praktis pembelajaran dengan konsep-konsep model diskusi, model proyek, model permainan (games), Ice Breaker (aktivitas-aktivitas pemanasan). Banyak hal baru yang secara praktis bisa kita terapkan sebagai cara pembelajaran yang tepat.

Selain rumusan praktis itu, buku ini juga menjelaskan kelengkapan untuk memenuhi terselenggaranya pembelajaran aktif. Pada bagian ini kita akan diperkenalkan pentingnya apresiasi pembelajaran sebagai memovitasi siswa untuk bangkit, kreatif dan memiliki mental menjadi pemberani, mandiri dan bertanggungjawab. Selamat membaca.

Makmun Yusuf. Pecinta Buku.

Sumber : Kompas

Mengasah Ketajaman Konsentrasi

Judul Buku : Tips Asah Ketajaman Konsentrasi Belajar Anak Setajam Silet

Penulis : Miftahul A’la

Penerbit : Flashbook

Terbit : Oktober 2010

Tebal : 121 halaman

Peresensi : Taufik Hidayat*

Sampai detik ini, masalah konsentrasi merupakan salah satu factor utama sekalgis penunjang yang akan menentukan masa depan seseorang.

Hampir semua orang menyaki akan kenyataan semacam ini. Namun sayang dalam kenyataanya mash banyak sekali anak bahkan orang dewasa yang sulit untuk memiki daya konsentrasi yang kuat. Ini tentunya menjadi persoalan besar yang harus segera diselesaikan.

Memang secara pastinya penyebab kesulitan konsentrasi masih belum teruangkap secara jelas. Bisa dikatakan banyak sekali penyebab yang mengakibatkan melemahnya konsentrasi seseorang. Karena dalam kenyataanya masih banyak sekali berbaga faktor yang mungkin dapat mempengaruhi munculnya gangguan konsentrasi semacam ini.

Sehingga sangat sulit bagi kita untuk langsung mengatakan penyebab lemahnya daya konsentrasi. Gangguan neurologi atau Malfungsi organik otak juga berperanan sebagai salah satu penyebab munculnya gangguan konsentrasi ini.

Buku “Tips Asah Ketajaman Konsentrasi Belajar Anak Setajam Silet” ini berusaha untuk mengungkap sekaligus menjawab tentang berbagai pertanyaan tentang masalah konsentrasi. Mulai dari penyebab melemahnya konsentrasi seseorang sampai bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi agar mampu mempertajam daya konsentrasi belajar.

Secara umum tidak semua orang memang memiliki konsentrasi yang penuh dalam belajar. Banyak juga anak-anak yang mengalami kesulitan konsentrasi dalam belajar. Kejadian semacam ini sudah merupakana sebuah fenomena umum yang hingga sekarang menjadi persoalan krusial untuk diselesaikan. Tidak mengherankan jika kemudian banyak sekali anak-anak yang meskipun sudah belajar selama berjam-jam namun belum bisa memahami secara fokus dengan apa yang dipelajrinya.

Kejadian semacam ini tentunya tidak bisa dianggap sebagai suatu persoalan kecil, meskipun juga tidak lantas dianggap sebagai masalah yang terlalu besar.

Jika anak anda memiliki daya yang konsentrasi yang lemah untuk bisa memuusatkan dan memfokuskan pada satu hal misalnya dalam urusan belajar, maka janganlah kemudian anda bersedih hati secara berlebihan dan kemudian berputus ada. Banyak sekali kemudian orang yang berputus asa dan sudah tidak semangat lagi jika memiliki kekurangan dalam dirinya. Padahal semua itu bisa untuk dilatih agar bisa memiliki daya konsentrasi yang bagus.

Yang namnya hidup memang selalu dekat dengan tantangan, semakin dewasa usia seseorang maka tangantangn ayang akan dihadapiya semakin besar.

Begitu juga semakin maju duni ini maka tantangan yang dihadapi akan semakin kompleks juga. Oleh karena itu teruslah berusaha untuk selalu mencoba memperbaiki kualitas konsentrasi yang anda miliki.

Karena konsentrasi merupakan salah satu kunci utama bagi seseorang unruk mampu bisa menghadapi berbagai tantangan yang datang dalkam hidup ini.

Sebab menurut Thomas Alva Edison, peranan IQ seseorang itu hanya 1% saja menunjang keberhasilan seseorang untuk mendapatkan prestasi dan memperbaiki masa depan, sedangkan yang 99% adalah kemauan dan kerja keras yang dimiliki oleh masing-masing individu itu sendiri. Kenyataan semacam ini tentunya merupakan salah satu fakta bahwa sesungguhnya siapapun bisa untuk mendapatkan prestasi tidak haris memiliki IQ yang tinggi. Jika harapan tersebut dapat diwujudkan, tentu akan membuat hati merasa senang sekali.

Semakin anda memiliki keinginan memperbaiki kualitas konsentrasi yang anda inginkan, maka secara bertahap maka apa yang anda harapkan akan bisa terwujud. Namun demikikian yang perlu untuk anda ingat bahwa semua itu membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa dilakukan dengan cara yang instan.

Dalam konsentrasi, maka secara langusng kita akan mengumpulkan semua energi yang terpencar untuk fokus hanya kepada satu hal. Ini memang bukan merupakan pekerjaan mudah seperti membalikan talapak tangan.

Membutuhkan tenaga yang ekkstra untuk bisa mendapatkan semau itu. Oleh karena itu konsentrasi tidak didapat dengan begitu saja, membutuhkan latihan yang terus menerus dan tidak kenal lelah untuk mendapatkannya.

Sebenarnya untuk kunci untuk meningkatkan konsentrasi adalah sikap relaksasi, yang membuka pusat persepsi yang lebih tinggi dari otak.

Bahkan, ada bukti dari kerja biofeedback gelombang otak dilakukan oleh Barry Sterman, Ph.D., yang meningkatkan produktivitas sebenarnya fungsi dari otak bergerak antara gelombang otak beta terkait dengan kesadaran eksternal fokus dan bersepeda di 15 - 42 siklus per detik dan gelombang otak alfa yang terkait dengan bersepeda santai fokus eksternal pada 8-15 siklus per detik.

Artinya, bahwa otak yang tahu bagaimana cara untuk beralih antara bekerja dan gaya sisa perhatian cepat mampu untuk menangani berbagai masalah dan situasi yang sangat menegangkan, seperti pelatihan pilot tempur simulasi, lebih efektif dari otak yang tetap terjebak dalam keadaan beta attentional. Jadi, masa istirahat yang dibutuhkan untuk meningkatkan konsentrasi bisa sangat singkat, tetapi harus terjadi dan harus untuk dilakukan.

Apabila kita benar-benar mampu untuk menguasainya dan memiliki konsentrasi secara optimal, maka secara otomatis tanpa disadari konsentrasi memiliki manfaat yang luar biasa terhadap hidup kita.

Bukan hanya konsentrasi dapat meningkatkan produktivitas dan memberikan ketenangan pikiran. Akan tetapi lebih dari itu, dengan memiliki konsentrasi maka ketika sedang belajar, maka denga mudah akan mampu menyerap berbagai pelajaran yang diberikan kepadanya. Selain tentunya masih banyak lagi berbagai manfaat yang akan didapatkan dengan meiliki konsentrasi yang bagus dalam dirinya.

Penulis adalah Pustakawan KUTUB Yogyakarta.

Sumber : Kompas