Wisata Ziarah Cikundul

Mata Air Sodong


Ini ada tempat mata air Sodong berada, tepatnya di Klapanunggal, Jalan nya bisa diakses via Klapanunggal atau kalo lewat Jonggol bisa melalui Jonggol--Desa Singajaya--Desa Singsari.
Photo yang lebih detailnya Insya Allah menyusul.

Penangkaran Rusa










Menengok Penangkaran Rusa di Cariu

DUA tangan Tata Suminta sibuk memunguti potongan ubi jalar yang semula ia serakkan di tanah berumput. Sambil memungut, Tata terus memanggil-manggil nama Asep dan Joni. "Ceuk, ceuk.... Nguk, nguk.... Sep, Asep.... Joni, Joni...." Begitu katanya. Dari tengah lapangan berumput, Asep dan Joni melangkah dengan pasti mendekati Tata.

DENGAN gemulai Joni mengambil potongan ubi itu dengan moncongnya. Ia kemudian membalikkan badan, memberikan kesempatan belasan temannya untuk menyantap ubi dari tangan Tata. Asep yang semula hanya memerhatikan Tata lalu dengan santai memakan potongan ubi yang dicomotnya dari tanah.

Asep dan Joni, serta belasan temannya, adalah sekelompok rusa. "Saya dan Zuhari yang sehari-hari merawat dan mengurus mereka. Sudah 10-an tahun, sejak penangkaran ini ada. Dia dinamai Joni karena setiap saya dekati dan dipanggil-panggil Joni, ngerti. Asep juga begitu. Dari lahir saya yang kasih makan dia," tutur Tata.

Ibu Asep, namanya Empon, sudah meninggal beberapa waktu lalu karena usia tua. "Kalau Asep sekarang usianya 10 tahun. Saya ingat usia Asep karena dia lahir ketika saya belum lama kerja di sini."

Asep yang diceritakan Tata dengan suara penuh sayang itu tidak lain adalah rusa jenis Cervus timorensis, atau populer dengan sebutan rusa jawa, sedangkan Joni jenis Axis axis atau rusa totol. Asep dan Joni adalah rusa jantan. Di kepala masing-masing bertengger tanduk bercabang tiga. Membuat keduanya terlihat sangat gagah dan berwibawa, di tengah kelompok rusa-rusa peliharaan Dinas Perhutani Kabupaten Bogor.

Wahana Wisata Penangkaran Rusa (WWPR), tempat Asep dan Joni hidup nyaman, berdiri sejak tahun 1993 di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Atau sekitar 1,5 jam bermobil dari Cibubur, Jakarta Timur, melalui Jalan Raya Jonggol-Cileungsi. Dulunya, rumah tinggal Asep-Joni ini dikenal sebagai Penangkaran Rusa Cariu karena, sebelum pemekaran wilayah, lokasinya masuk Kecamatan Cariu, Bogor.

"Selain Axis axis dan Cervus timorenis, ada juga Axis kuhlii atau rusa bawean. Kalau jenis Cervus unicolor atau rusa sambar, kami belum punya. Sulit cari bibitnya. Padahal rusa sambar ini jenis rusa asli Indonesia," kata Rachmat Pudjo, asisten Perhutani/KB KPH Jonggol, yang bertanggung jawab atas kelangsungan penangkaran rusa tersebut.

Menurut Rachmat, di WWPR kini ada sekitar 70 rusa. Populasi rusa di sini memang dibatasi, disesuaikan dengan luas areal penangkaran yang merupakan sebuah bukit kecil dengan hutan pinus dan semak belukar. Luasnya hanya lima hektar dengan populasi ideal satu hektar untuk 10 sampai 15 rusa.

Selain lima hektar lahan untuk tempat tinggal rusa itu, di WWPR masih ada dua hektar lahan yang dikhususkan untuk penanaman/pemeliharaan rumput, deposit makanan utama rusa. Selain itu, masih ada lagi dua hektar lahan yang bisa digunakan untuk berkemah atau melakukan aktivitas wisata alam lain bagi para pengunjung.

MENURUT Koordinator Wisata KPH Bogor Tri Ernawati, WWPR memang dibuka untuk umum. Untuk menikmati keelokan rusa-rusa di sana, pengunjung harus membeli karcis masuk sebesar Rp 2.500 per orang. Kalau ingin melakukan aktivitas wisata alam seperti hicking atau out bound, setiap peserta dikenai biaya tambahan Rp 3.000 per orang. Jika ingin berkemah, pengunjung dikenai biaya sewa lahan Rp 300.000 per hari per rombongan. Warga negara asing dikenai Rp 15.250 per orang untuk tiket masuk saja.

"Kalau mau berkemah, paling tidak dua tiga hari sebelumnya sudah memberi tahu kami. Maksimal kami bisa melayani 200 orang. Kami saat ini baru bisa memberikan fasilitas lahan dan MCK saja. Peralatan berkemah dan lainnya harus dibawa peserta. Namun, setiap pengunjung sudah mendapat jaminan asuransi," tutur Tri.

Berkemah di kawasan WWRP memang lumayan enak. Pemandangannya asri dan udaranya cukup dingin segar. Selain dapat menikmati keelokan rusa- rusa dan hijaunya alam, pengunjung juga dapat menikmati gemuruh air Sungai Cibeet, yang merupakan bagian dari daerah aliran Sungai Citarum. Airnya yang bening dengan serakan bebatuan sangat mengundang pengunjung untuk bermain atau mandi.

"Penduduk di sini juga mandi di sungai itu, tetapi kita harus hati-hati. Apalagi musim hujan seperti sekarang. Walaupun tampaknya air tidak deras dan cuaca cerah, air sungai bisa tiba-tiba besar sekali akibat hujan di hulu," kata Tata.

Kembali ke penangkaran rusa, Rachmat Pudjo membenarkan bahwa masyarakat bisa membeli rusa peliharaan tersebut. Jika berminat, permohonan membeli harus diajukan kepada Dinas Perhutani Kabupaten Bogor, yang berkantor di Cibinong. Harga rusa sekitar Rp 2,5 juta per ekor. Hanya saja, tidak setiap saat permohonan membeli rusa itu dapat dikabulkan. "Kami baru menjual rusa jika populasinya berlebih," kata Rachmat.

Ternyata, tidak mudah pula menangkap rusa di sana walaupun kita sudah mengantongi izin membeli. Padahal, pengunjung bisa menyaksikan rusa- rusa itu tidak takut mendekati orang. Didampingi Tata, atau petugas lainnya, anak-anak bahkan bisa langsung memberikan makanan ke mulut rusa- rusa itu.

Faktanya, sulit menangkap rusa yang kita inginkan. Ini dialami Cecep MW, dokter hewan pemilik pet shop di Cipanas, yang bermaksud menangkap sepasang rusa yang sudah dibelinya. Dari pagi hingga tengah hari, ia belum mendapatkan rusa yang diminatinya walaupun sudah menghabiskan tiga ampul obat bius. Ia menembakkan jarum suntik berisi obat bius itu dengan cara disumpit. "Meleset melulu karena rusanya makin menjauh. Lari," kata Cecep, yang menyumpit dari saung berteduh dan tempat menonton rusa-rusa penangkaran. Cecep membeli dua ekor rusa untuk melengkapi koleksi tujuh rusa yang sudah dimilikinya. "Rusa-rusa saya jantan semua. Karena itu, saya perlu rusa betina. Tadinya saya mau beli lima, tetapi Perhutani Bogor hanya mengizinkan dua ekor," tutur Cecep.

Menurut Tata, rusa itu memang seakan-akan mengerti kalau di antara mereka ada yang diincar untuk ditangkap. Rusa-rusa itu kompak menjauh. Bahkan ada yang masuk ke semak-semak. "Apalagi kalau yang mau menangkap berpenampilan seperti dokter dan bawa tas dokter segala. Ya, seperti Pak Cecep itu tadi. Rusa-rusa mengerti dan jadi takut mendekat. Karena mereka sudah biasa lihat dokter hewan kami yang datang cuma untuk menangkapi rusa untuk disuntik atau diobati," katanya.

SETELAH Cecep pergi karena putus asa menunggu rusa-rusa mendekat, rusa-rusa itu baru terlihat mendekat ke saung. Mereka tidak kabur walaupun ada pengunjung yang turun dari saung memberinya ubi jalar. Mereka makin banyak mendekat lagi ketika Tata memanggilnya.

Menurut Tata, sudah cukup banyak rusa rawatannya yang dibeli orang. Namun ia tidak pernah tahu, atau mungkin tidak ingin tahu, kenapa orang-orang itu membeli rusa. "Pokoknya seumur-umur saya merawat rusa, saya tidak pernah makan daging rusa. Jangankan makan, memotongnya pun saya tidak mau. Kasihan, tidak tega, setiap hari saya melihat mereka, bertahun-tahun," tuturnya.

Itu sebabnya, ia senang sekali kalau ada pengujung yang datang membawa oleh-oleh bagi rusa-rusanya: buah-buahan manis, seperti pisang dan mangga.

"Rusa sebetulnya makan buah apa saja asal manis. Di sini ada pohon mangga, alpukat, dan buah lainnya. Kalau lagi musim berbuah dan buahnya jatuh, dimakan rusa," katanya.

Makanan utama rusa di penangkaran adalah rumput (pagi hari), ubi jalar (siang hari), dan dedak (malam hari).

Rumput yang dibutuhkan bagi 70-an rusa sekitar 25 karung per hari. Berat satu karungnya mencapai 25 kilogram, sedangkan ubi jalar dan dedak masing-masing 60 kilogram per hari.

"Rusa tidak doyan singkong. Jadi kalau mau bawa oleh-oleh umbi-umbian, bawa saja ubi jalar atau wortel," tuturnya, sambil memandang sayang Asep dan Joni, yang tengah mengunyah ubi jalar pemberiannya. (Ratih P Sudarsono)


Sumber : Kompas, Edisi Kamis, 10 Maret 2005

Penangkaran Rusa Cariu

Tempat penangkaran Rusa di Cariu ini tidak banyak diketahui orang. Sepi dan jauh dari keramaian. Padahal, lokasi ini sudah ada sejak tahun 1993 dengan nama Wahana Wisata Penangkaran Rusa (WWPR) milik Dinas Perhutani Bogor. Ditilik dari lokasinya, tempat ini sebetulnya potensial didatangi oleh wisatawan lokal yang ada di Jakarta, Bogor dan Cianjur atau Bandung. Artinya, jika mereka tau disini ada tempat wisata alam yang lumayan bagus, tentunya akan banyak pengunjung yang kemari.

Arah dari Jakarta menuju lokasi ini gampang saja, pergilah kearah Cibubur, lalu masuk di Jl. Alternatif Cibubur-Cileungsi. Terus saja arahkan mobil kearah Jonggol tembus ke Cianjur. Melalui jalan yg lumayan bagus dan berliku liku melewati sawah yang luas dan deretan perbukitan yang cukup indah, sampailah kita di desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung sari, Cariu, Bogor. Disinilah lokasi WWPR berada, karena itu penduduk sekitar menyebutnya sebagai: “rusa cariu”, artinya penangkaran ini berada diwilayah Cariu. Jika dihitung dari Cibubur, bisa jadi jauhnya sekitar 40 km lebih dan kurang. Tidak jauh amat, kan.

Ditepi jalan berdiri papan nama sederhana dari kayu apa adanya bertuliskan: penangkaran rusa. Belokan mobil, melewati jalan berbatu kasar sepanjang 50m kedalam hingga berhenti ditepi sungai Cibeet yang sangat lebar dan berair deras. Mobil tidak dapat melanjutkan perjalanan karena didepan sudah ada jembatan gantung yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki dan naik motor. Lokasi penangkaran itu sendiri masih perlu berjalan kaki sekitar 50 m lagi melalui hutan sekunder yang nyaman dan satu lokasi camping kecil. Sekilas mata menyapu lokasi, tempatnya sungguh enak, bersih, dibawah bayang bayang keteduhan pepohonan yang rindang dan gemericik air sungai dari kejauhan. Tempat ini cocok juga dipakai buat siapapun yang ingin menyepi dari bisingnya dunia luar. Saya sendiri sempat berkeinginan menghabiskan cuti 2 hari dengan camping disini karena melihat sepinya lokasi ini. Pasti ideal untuk melakukan treking ringan sambil mengitari wilayah ini, kata saya dalam hati.

Didalam, kami melihat satu areal luas yang dibatasi oleh pagar kawat melingkar. Ditengahnya membelah jalan berbentuk jembatan kayu memanjang yang diujungnya ada gazebo lebar. Sebelum masuk kami bersalaman dahulu dengan penjaga lokasi penangkaran ini dan berbicara penuh tawa ramah. Setelah berkenalan kami pun masuk kedalam melewati jembatan kayu itu keareal tempat rusa berada.

Rusa disini lumayan jinak dengan pengunjung. Mereka tanpa ragu bisa mendekat dan meminta makan langsung dari tangan manusia yang memberinya. Ini sebuah momen yang amat menyenangkan. Bisa dibayangkan jika membawa anak kecil kemari, tentunya merupakan hal yang amat berkesan bagi dirinya berdiri berdekatan dengan sekelompok rusa sambil memberi makan langsung dari tangan sendiri. Makanan kesukaan hewan herbivora ini adalah buah buahan manis. Dan rusa-rusa akan dengan antusias mendekat jika dipanggil sambil mengacungkan sekepal buah buahan didepan matanya.

Lucunya, rusa disini takut dengan pengunjung berpakaian dokter. Kata penjaganya, penghuni disini akan sontak berlarian menjauh jika ada orang dengan pakaian dokter kemari. Tampaknya mereka semua jerih dikejar kejar dan ditangkap lalu disuntik oleh dokter hewan yang rutin berkunjung kesini. Saya tertawa geli dalam hati. Ternyata rusa takut juga disuntik, dan luarbiasanya mereka bisa mengingat dari bentuk pakaian manusia yang datang disini. Jadi, pesan moralnya simple saja: “Jika ingin memberi makan rusa, maka jangan berpakaian bak seorang dokter, dijamin rusanya lari bersembunyi diantara semak semak”. Hahaha

Melihat komposisi penghuni lokasi WWPR, disini terdapat campuran beberapa species rusa. Diantaranya adalah rusa totol (Axis Axis), rusa jawa (Axis Timorensis), dan rusa bawean (Axis Kuhlii). Populasinya lumayan banyak, ada sekitar 70 ekor rusa dibiarkan lepas dalam kandang seluas 2 ha.

Populasi ini akan tetap dipertahankan dalam jumlah ideal dengan luas kandang. Rusa memang hewan yang aktif soal “anak beranak”. Dalam usia 20 bulan, seekor rusa jantan sudah bisa membuat bunting 20 ekor rusa betina. Luar biasa memang. Tidak heran lantas muncul mitos bahwa organ rusa sanggup mendongkrak libido (walaupun itu tidak terbukti secara ilmiah). Apabila sekelompok komunitas rusa tidak menemui predator alamiahnya dialam, dipastikan jumlah mereka akan dengan cepat membengkak.


Karena itu, jika jumlahnya berlebih maka sisanya akan dijual kepada siapapun yang berminat . Kedengarannya aneh memang, tapi rusa disini memang boleh dibeli melalalui Perhutani Bogor. Harga persatuan antara 2 juta hingga 5 juta per ekor tergantung usia dan berat tubuhnya. Apakah dibeli untuk dimakan? Entahlah. Penjaga disini juga tidak tau untuk apa rusa itu dibeli. Yang pasti, mereka mengaku tidak mau menyembelih rusa dan memakannya. Rasa sayang karena memelihara rusa membuat mereka tidak tega hati memakan binatang piaraan ini.

Tanpa sadar jam sudah bergeser hingga jam 2 siang. Perut kami sudah berbunyi berdentam dentam bak genderang perang, tanda lapar mulai menyerang.

Kami segera menyantap makanan yang kami bawa dari Jakarta sambil duduk duduk di saung sederhana yang ada disana. Lokasi ini jeleknya cuma satu yakni tidak ada warung makan atau berjualan snack ringan. Karena itu, jika tidak mau lapar, lebih baik siapkan makanan sejak dari Jakarta. Jangankan makanan, listrik pun tak ada disini. Semuanya serba sederhana dan apa adanya. Untungnya disini ada MCk yang memadai. Pengunjung yang sudah kebelet bisa “bertapa” dengan nyaman di MCK tanpa perlu takut melakukan itu disungai Cibeet

SMPN 1 Jonggol




Alamat :
SMP Negeri 1 Jonggol
Jl. Menan Sukamaju
Jonggol, Kab. Bogor
Indonesia—16830
Phone: 021 - 8993 2476
Fax: 021 - 8993 4471

Sumber : SMPN 1 Jonggol


Nikmati Alam Pedesaan di RM. Jatinunggal

Semilir angin, hijaunya sawah serta gemericik air sungai sejukan suasana hati. Hayalan pun melayang jauh hingga ke dimensi tujuh. Suasana alam pedesaan yang memanjakan mata membuat terlena. Aku merasa tersesat dan tak mau kembali.


Jujur saja, rasa penasaran masih menggelayuti pikiran ini. Cerita seorang teman tentang rumah makan yang menawarkan suasana alam pedesaan yang lokasinya tidak begitu jauh dari Jakarta begitu mengusik hati. Ketika tawaran itu datang, gaung pun bersambut.

Di suatu siang di daerah sekitar Jonggol-Cariu tepatnya di Desa Sukasirna, Jonggol Kabupaten Bogor, cuaca mendung dan awan hitam membayangi perjalanan kali ini. Maklum saja, pertengahan Februari ini, cuaca agak kurang ramah. Di beberapa daerah bahkan terjadi hujan deras disertai angin puting beliung. Namun beruntung sekali, perjalanan kali ini tidak turun hujan, walau hati ini cemas juga, khawatir hujan akan mengguyur wilayah ini.

Memasuki wilayah ini, suasana alam pedesaan begitu kental terasa. Hamparan sawah yang luas membentang, suasana sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor, masyarakat yang ramah, dan semilir angin pegunungan, merangsang rasa kantuk yang membuat terlena. Aku sungguh terhipnotis. Rasa lapar pun tiba-tiba saja datang menghampiri. Mungkin terbawa suasana, begitu ucapku dalam hati.

Pesona alam pedesaan yang damai, seperti slogan ‘aman, tenteram loh jenawi’ tampak menjadi nyata. Setelah menempuh perjalanan yang beraspal ‘sirtu’, aku pun tiba di lokasi rumah makan yang dimaksud temanku.

Nama rumah makan itu RM Jatinunggal. Terletak lebih kurang satu kilometer dari jalan raya Jonggol-Raweuy. Tidak ada angkutan umum menuju lokasi rumah makan ini. Pengunjung yang datang umumnya membawa transportasi sendiri.

Tapi jangan tanya jumlah pengunjung yang datang ke tempat ‘terpencil’ ini. Berlimpah loh. Walau lokasinya ‘agak’ jauh dari jalan raya, namun rumah makan ini selalu ramai. Apalagi kalau hari-hari libur seperti Sabtu atau Minggu. Seperti yang terlihat, deretan mobil dari berbagai jenis tampak terparkir rapi di pelataran depan rumah makan.

Menurut Manager RM Jatinunggal Yoyo Wahyudin, rumah makan ini berdiri sejak tahun 1989 yang menyediakan menu makanan khas Sunda.

“Rumah makan ini berdiri sejak tahun 1989. Awal mulanya cuma budidaya ikan mas. Namun seiring perkembangan kota Jonggol, kemudian tempat ini berkembang menjadi sebuah tempat wisata keluarga dan wisata kuliner, khususnya menyediakan menu khas Sunda,” tutur Yoyo yang mengaku sudah puluhan tahun mengelola rumah makan ini.

Dijelaskan Yoyo, tempat ini memiliki sumber air yang berlimpah yang berasal dari Sungai Cipamingkis. Makanya dahulu lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat budi daya ikan arus deras seperti ikan mas.

“Hasil budi daya ikan mas di sini beda hasilnya (kualitasnya) di banding tempat lain. PH air disini mungkin lebih bagus,” ungkapnya.

Rumah makan ini memang menjual suasana alam pedesaan. Dengan hamparan sawah yang luas membentang, suara gemericik air yang mengalir di bawah gubuk-gubuk yang di bangun dari kayu dan bilik (anyaman dari bambu) sebagai tempat para pengunjung menikmati hidangan, sungguh memberikan suasana ‘ndeso’ yang menenangkan jiwa dan pikiran yang sudah ruwet oleh suasana kota yang bising.

Balong-balong (kolam ikan) yang terletak di bawah gubuk-gubuk dimanfaatkan sebagai tempat budidaya ikan yang setiap dua minggu sekali bisa dipanen atau ditangkap sebagai menu makanan. Bahkan di hari-hari tertentu (biasanya dari hari Senin sampai Jumat) para pengunjung boleh memanfaatkan dan memilih sendiri ikan yang akan di santap.

Ada pula yang memilih memancing sendiri ikan yang mau disantap. Tentunya ini buat pemilik hobby mancing saja. Maklumlah, tentu akan lebih lama menikmati hidangan karena harus menunggu dulu ikan yang didapat.

"Biasanya di sini kami timbang per ons. Untuk ikan mas Rp.4.500/ons, sedang ikan gurame Rp. 6.500/ons,” kata Yoyo seraya mengungkapkan bahwa setiap minggunya mendatangkan sekitar 6 kwintal ikan mas dan gurame dari daerah Bogor untuk kebutuhan rumah makan ini. Ditambahkan, menu-menu yang menjadi favorit pengunjung RM Jatinunggal seperti Ikan Gurame Asam Manis dan Ikan Mas Pepes.

Untuk menu lainnya, seperti umumnya rumah makan khas Sunda, tempat ini juga menyediakan menu-menu seperti Sayur Asam, Lalab Sambal, Pepes Jamur, Pepes Tahu, dan Ikan Mas Balita (ikan mas yang masih kecil-kecil namun digoreng garing). Ehm, yang terakhir ini patut di coba para pengunjung, apalagi kalau dicocol dengan sambal goreng, mantap!!!

Para pengunjung yang datang pun umumnya berasal dari daerah di luar kota Jonggol dan sekitarnya seperti Cibarusah, Bekasi, Cibubur, Bogor dan Jakarta. Bahkan pernah ada yang datang dari daerah Tangerang.

“Mereka umumnya para keluarga dan dari instansi pemerintah. Kadang mereka mem-booking tempat untuk acara pesta ulang tahun dan meeting room untuk para pengunjung dari kalangan instansi pemerintah,” katanya seraya menambahkan sudah banyak pesohor yang datang ke tempat ini seperti mantan Wapres Try Soetrisno dan artis Nabila Syakib. Lebih lanjut Yoyo menambahkan bahwa tempat ini juga menyediakan fasilitas taman bermain anak-anak dan ruang karaoke organ tunggal.

Seorang pengunjung, Pak Hasan, yang datang bersama keluarga lengkap mengaku sebagai pelanggan tetap rumah makan ini. Dari rumahnya dibilangan Cibubur, ia sengaja mengajak keluarganya untuk makan-makan seraya menikmati suasana alam pedesaan yang masih nampak asri.

“Enak makan di sini. Makanannya pas di lidah dan suasana lingkungannya masih asri, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sangat cocok untuk refreshing dan menjalin keakraban anggota keluarga,” katanya sembari tersenyum ramah.

Tempat ini buka setiap harinya dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 19.00 malam. Untuk Sabtu dan Minggu merupakan hari yang ramai oleh pengunjung. Hari Senin sampai Jumat, pengunjung diperbolehkan memilih sendiri ikan yang ada dikolam-kolam (balong).

Suasana alam pedesaan yang asri kini sudah seperti oasis yang memberikan kesegaran jiwa masyarakat perkotaan. Nampaknya, RM Jatinunggal mampu memberikan obat penawar rasa sumpek orang-orang kota yang lelah bergelut dengan hiruk pikuk permasalahannya.

Teks dan Foto: Harry Tanoso/Wisatanet.com
Sumber : Wisatanet